Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 06 Februari 2014

ANALISIS NOVEL DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH (karya Hamka)

1.Tema
Tema pada novel Dibawah Lindungan Ka’Bah adalah tentang cinta yang tak sampai karena perbedaan status sosial yang menghalangi untuk Zaenab dan Hamid bisa bersama. Hamid adalah seorang pemuda miskin yang tinggal bersama ibunya karena ayahnya telah meninggal semasa Hamid kecil. Berbeda dengan Zaenab anak dari seorang saudagar kaya, orang tuanya tentu memilihkan pasangan hidup bagi Zaenab karena agar harta kekayaannya tetap terjaga tentu dari kalangan orang kaya pula.
2.Plot (alur)
Alur cerita yang digunakan dalam novel Dibawah Lindungan Ka’Bah adalah alur campuran yaitu maju dan mundur. Kerena dalam novel ini menceritakan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi dan berlanjut kembali ke masa depan. begitupun dengan filmnya menggunakan alur mundur, lalu maju menceritakan masa yang akan datang.
Berikut adalah proses alur dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’Bah dan film Di Bawah Lindungan Ka’Bah;
Ø  Pengenalan Situasi Cerita
Dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’Bah diawali pada tahun 1927 di Mekkah saat tokoh saya sedang ingin melaksanakan ibadah haji bertemu dengan seorang pemuda bernama Hamid, merekapun berteman. Dilihatnya Hamid yang selalu termenung, sehingga tokoh saya ingin mengetahui apa yang sedang di alami sahabatnya itu.
“Sudah lama saya perhatikan hal-ihwalmu, saudara, rupanya engkau dalam dukacita yang amat sangat. Agaknya engkau kurang percaya kepada saya, sehingga engkau tak mau membagi-bagi kedukaan itu dengan saya. Sebagai seorang kawan, yang wajib berat sama memikul dan ringan sama menjinjing….( HAMKA, 2010:9).
“…. setelah itu ia menarik nafas panjang, seakan-akan mengumpulkan ingatan yang bercerai-berai dan ia pun memulai perkataannya. (HAMKA, 2010:10)
Hamid yang hanya tinggal berdua dengan ibunya karena ketika dia umur empat tahun ayahnya telah meninggal. Hamid dan ibunya tinggal dalam kemiskinan, Hamid pun yang sudah memasuki umur enam tahun harus menunda masuk sekolah karena tidak adanya biaya. Suatu hari telah pindah ke kampung Hamid seorang saudagar kaya bernama Haji Ja’far beserta istri yaitu Mak Asiah dan satu anak perempuannya bernama Zaenab. Perhatian Haji Ja'far dan Mak Asiah sangat baik. Hamid dianggap seperti anaknya sendiri. Mereka sangat baik kepada Hamid karena perilaku Hamid terpuji dan taat beragama. Karena itu pula Hamid disekolahkan bersama dengan Zaenab. Hamid dan Zaenab pun berhubungan baik layaknya kakak-beradik. Mak Asiah pun sudah menganggap ibu Hamid seperti saudara sendiri.
“Zaenab telah saya pandang sebagai adik kandung, saya jaga dari gangguan murid-murid yang lain. Lepas dari sekolah kerap kali saya datang dengan ibu ke rumah besar itu, kalau-kalau ada yang patut kami bantu dan kami tolong, karena kami telah dipandang sebagai anggota rumah yang indah itu” (HAMKA, 2010:17)
Jika dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah awal pengenalan langsung pada menit 00.28 ketika Hamid yang pulang kembali kekampung setelah menempuh pendidikan diploma di Thawalib, Padang Panjang dan mengingat kejadian tahun 1919 dimana Hamid berterima kasih kepada Haji Ja’far atas kebaikannya selama ini yang telah menyekolahkannya.
Ø  Menuju Adanya Konflik
  Setelah bertahun-tahun Hamid dan Zaenab bersama-sama menempuh pendidikan akhirnya mereka lulus juga dari pendidikan MULO, sesuai tradisi yang berlaku, ketika sudah lulus MULO seorang gadis tidak boleh melanjutkan lagi pendidikannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi, karena mereka sudah masuk masa pinyitan. Zaenab pun harus menerima itu, berbeda dengan Hamid yang harus melanjutkan pendidikannya hal itu pun karena Haji Ja’far masih sanggup untuk membiayai sekolahnya. Hamid memilih pendidikan Diploma di Thawalib, Padang Panjang. Selama Hamid berada di Padang Panjang, dia merasa kesepian, seperti telah kehilangan suatu hal, Hamid pun menyadari bahwa dia sedang merindukan Zaenab, bukan sebagai kakak kepada adik melainkan perasaan lebih, Hamid jatuh cinta pada Zaenab.
“…. Rindu kepadanya membukakan pintu angan-angan saya menghadapi zaman yang akan datang. Dahulu saya tiada pedulikan hal itu, tetapi setelah saya bersadar dan terpisah darinya, barulah saya insaf, bahwa kalau bukan di dekatnya, saya berasa kehilangan” (HAMKA, 2010:24)
Ø  Puncak Konflik
Musibah pun datang, dengan tiba-tiba saja Haji Ja’far meninggal sedangkan dalam film terdapat pada menit 01.04.40 kabar Engku Ja’far meninggal karena kapal yang ia tumpangi untuk menunaikan Haji terbakar dan tenggelam.
Dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah. Hamid pun harus kembali ke kampung dan tidak bisa kembali ke Padang Panjang karena harus mengurus ibunya yang sedang sakit. Dengan kondisi yang sakit ibu Hamid ingin berbicara dengan Hamid mengenai perasaan anaknya itu kepada Zaenab, Ibu Hamid mengetahui bahwa anaknya sudah jatuh cinta pada Zaenab. Ibunya pun berpesan agar Hamid membuang jauh perasaannya itu, jangan pernah di ungkapkan karena mereka berbeda status sosial.
“ orang sebagai kita ini telah di cap dengan ‘derajat bawah’ atau ‘orang kebanyakan’, sedang mereka diberi nama ‘cabang atas’, cabang atas adakalanya karena pangkat dan adakalanya karena harta benda.” (HAMKA, 2010:28)
Ibu Hamid pun meninggal. Setelah kehilang dua orang yang amat sangat disayangi, Hamid merasa sebatang kara, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk hidupnya setelah ini. Suatu hari Hamid bertemu dengan Mak Asiah, Mak Asiah pun meminta Hamid untuk datang kerumah karena ada yang ingin Mak Asiah bicarakan kepada Hamid. Keesokannya Hamid pun datang kerumah Mak Asiah, ternyata Mak Asiah meminta Hamid membujuk Zaenab agar mau bertunangan dengan kemenakan Almarhum Haji Ja’far. Mendengar itu Hamid sangat terkejut karena dalam Hatinya, Hamid sangat mencintai Zaenab dia tidak mungkin melakukan hal yang tidak dikehendaki oleh hatinya, namun di sisi lain dia harus menuruti permintaan Mak Asiah sebagai bentuk rasa hormatnya kepada orang yang telah membantu banyak dalam hidupnya. Hamid pun langsung membujuk Zaenab agar menuruti apa yang ibunya katakana,film terdapat pada menit 01.17.50 sampai 01.23.40.
Setelah kejadian pada pada hari itu, Hamid memutuskan untuk meninggalkan kota Padang tanpa sepengetahuan Zainab. Hamid menuju kota Medan, ketika di Medan Hamid mengirimkan surat kepada Zainab, dengan meberanikan diri mencurahkan segala perasaan yang selama ini dipendamnya. Setelah dari Medan Hamid menuju ke Singapura, mengembara ke Bangkok, berlayar terus memasuki tanah Hindustan menuju ke Basrah, masuk ke Irak melalui Sahara Nejd dan sampailah ke Tanah Suci. Sedangkan dalam film pada menit 01.27.50 Hamid pergi dan berpamitan kepada Mak Asiah karena melanjutkan hukumannya.
Ø  Pemecahan Masalah
Setahun sudah Hamid berada di Mekkah. Ketika di Mekkah Hamid bertemu dengan Saleh, teman sekampungnya yang kebetulan akan menunaikan ibadah Haji. Kehadiran Saleh memberikan informasi kepada Hamid tentang keadan di kampungnya dan tentang Zainab. Tentu ini semua membuat Hamid bahagia. Saleh juga memberi tahu bahwa Zainab mencintai Hamid, Saleh tahu hal tersebut dari istrinya yaitu Rosna yang kebetulan Rosna adalah sahabat Zainab.
Begitupun dengan Zainab kini ia telah mengetahui keberadaan Hamid, seseorang yang ia nantikan selama bertahun-tahun. Karena Saleh pula cinta keduanya jadi terbuka, setelah mereka saling mengirim surat yang dibantu oleh Saleh. Hamid dan Zainab kini sama-sama telah mengetahui perasaan masing-masing, yang ternyata cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Zaenab tetap menjaga teguh do’a untuk dirinya untuk menikah hanya dengan orang yang dia cintai dan mencintainya. Jika dalam film surat Zaenab dengan surat hamid sampai waktu bersamaan pada menit 01.47.50
Ø  Penyelesaian
Tetapi sebelum keduanya bertemu di tanah air, Tuhan telah berkehendak lain. Surat Rosna membawa kabar bahwa Zainab telah meninggal, karena begitu berat ia menahan rindu kepada Hamid lelaki yang ia cintai, mereka tidak dapat bersama karena status sosial mereka yang berbeda, disusul pula oleh Hamid yang setelah berdoa di antara pintu ka’bah dengan Batu Hitam (Hajar Aswad), ia meninggal.
“Di bibirnya terbayang suatu senyuman dan…sampailah waktunya. Lepas ia dari tanggapan dunia yang mahaberat ini, dengan keizinan Tuhannya. Di Bawah Lindungan Ka’bah!” (HAMKA, 2010:62)
Hamid dan Zaenab meninggal diwaktu yang sama dengan tempat yang berbeda. Hamid meninggal setelah berdo’a, dekat dengan Ka’bah. Terdapat pada menit 01.48.26 sampai 01.52.25
3.Latar Cerita
1)      Latar Waktu: Dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah.
Ø Tahun 1927 di Mekkah. Di buktikan dalam kutipan berikut. Menceritakan awal mula tokoh saya yang pada saat itu pergi Haji
“Konon kabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum itu ataupun sesudahnya.” (HAMKA, 2010:5)
“…. Dua hari kemudian saya pun sampai di Mekkah, Tanah Suci kaum muslim sedunia.” (HAMKA, 2010:5)
Dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah.
Ø  Awal cerita pada tahun 1922 pada saat Hamid kembali setelah menyelesaikan pendidikan diplomanya di Padang Panjang.
Ø  Menceritakan masalalu pada tahun 1919.
Ø  Dan masa yang akan datang dimulai pada tahun 1927.
2)      Latar Tempat
Dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah berlatar tempat sebagai berikut;
Ø kota Padang, Sumatra Barat, tempat Hamid dan Zaenab tinggal dari semasa kecil hingga dewasa.
Ø Padang Panjang tempat Hamid melanjutkan pendidikannya di Thawalib.
Ø Medan sebagai kota pertama Hamid singgah setelah memutuskan pergi dari kampungnya dan bertujuan untuk ke Mekkah.
Ø  Dan Mekkah tempat Hamid menunaikan ibadah Haji.
Jika dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah terdapat latar;
Ø Rumah, tempat Hamid biasa bertemu denga Zaenab
Ø Surau, tempat berkumpul orang sekampung untuk sholat, tempat anak-anak mengaji, dan tempat untuk acara lain seperti pada saat lomba debat.
Ø Pantai, tepi sungai, dan pasar tempat Hamid dan Zaenab bermain bertemu kemudian bersenda gurau
Ø Perkuburan, tempat ibu Hamid dimakamkan
Ø Mekkah, tempar Hamid dan Saleh bertemu yang ingin melaksanakan ibadah Haji.
3)      Latar Suasana
Ø Suasana Bahagia
Terdapat beberapa latar suasan gembira pada novel dan film Di Bawah Lindungan Ka’bah. Seperti pada kutipan berikut;
ü   “Waktu itu kelihatan nyata oleh saya mukanya merah, nampak sangat gembiranya melihat kedatangan saya.” (HAMKA, 2010:33).
Suasana bahagia saat Hamid berkunjung ke rumah Zainab. Sedangkan dalam film dibuktikan pada menit 20.10 saat Hamid pulang dari Thawalib.
Ø Suasana Sedih
ü  “Tidak mak, cuma kematian yang bertimpa-timpa itu agak mendukakan hatiku, itulah sebabnya saya kurang keluar dari rumah.” (HAMKA, 2010:33).
Suasana sedih dalam film yang Hamid rasakan karena kematian  ibunya. Terdapat  pada menit 01.16.10
ü  “Setelah kira-kira lima menit lamanya, barulah mukanya diangkatnya, air matanya kelihatan menggelenggang, mengalir setitik dua titik ke pipinya….”(HAMKA, 2010:37)
Suasana sedih ketika Hamid melunakan hati Zainab supaya menuruti permintaan ibunya untuk mau ditunangankan dengan orang yang sudah dipilih untuk menjadi suaminya. Dalam film terdapat pada menit 01.23.40
4.Penokohan
1)      Saya: Tokoh Utama yang akhirnya bertemu dan berteman dengan Hamid.
2)      Hamid: Berbudi pekerti luhur, sopan, pintar, rendah hati dan sederhana.
3)       Ibu Hamid: Wanita yang gigih berjuang membesarkan anaknya walau hanya sendirian. Baik hati dan penuh kasih sayang.
4)      Zainab: Anak perempuan Haji Ja’far dan Mak Asiah. Berteman dengan Hamid sejak kecil. Selalu bersama-sama hingga tamat sekolah. Zainab baik hatinya, sopan, ramah dan sangat patuh kepada orang tuanya.
5)      Haji Ja’far: Saudagar kaya yang membantu kehidupan Hamid dan ibunya, yang menyekolahkan Hamid. Haji Ja’far sangat dermawan dan baik hati.
6)      Mak Asiah: Mak Asiah adalah wanita penuh kasih sayang. Baik hatinya kepada siapa saja.
7)      Rosna: Istri Saleh dan juga sahabat baik Zainab, dia selalu bersedia mendengarkan keluh kesah Zaenab dan menemani Zaenab di saat Zaenab merasa sedih karena kepergian Hamid.
8)      Saleh: Teman semasih sekolah hamid yang ingin melanjutkan penddidikannya di Mesir. Suami Rosnah.
Penambahan dan juga perubahan tokoh dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah :
1)      Arifin: Jika dalam novel dia adalah kemenakan Haji Ja’far hanya saja dalam novel tidak disebutkan siapa namanya. pemuda kaya yang sedang bersekolah di Jawa, pemuda yang akan di jodohkan dengan Zaenab.
2)      Ghazali: pemuda yang menjadi lawan Hamid dalam lomba debat.
3)      Rosnah: sahabat Zaenab yang selalu membantu di rumah Zaenab dan juga menemani Zaenab kemanapun. Bukan istri dari Shaleh.
4)      Shaleh: teman Hamid yang juga bekerja di tempat Haji Ja’far. Bukan suami Rosnah.
5.   Sudut Pandang
Dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan. Karena dalam cerita tokoh utamanya yaitu ‘saya’ yang bertemu dengan Hamid di Mekkah lalu menjadi teman, menceritakan kisah Hamid dengan sudut pandang orang pertama pelaku utama yaitu Hamid sendiri. Sedangkan dalam film menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama yaitu Hamid.
6.   Amanat
Amanat dari tema ini adalah ketika kita hanya di pandang sebelah mata oleh orang lain, ingatlah bahwa Allah selalu memandang semua hambanya sama, tidak terhalang dengan miskin dan kaya dan terpandang atau tidaknya seseorang, hanya keimanan dari diri sendiri lah yang membuat kita berbeda di hadapan Allah. Ketika segala apa yang ada di dunia ini menghalangi keinginanmu percayalah bahwa Allah mempunyai caranya sendiri untuk kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Mencintai seseorang tidak semata hanya memandang fisik dan kekayaan saja tetapi juga hatinya.

Jumat, 31 Januari 2014

Deskripsi singkat tentang Yuri I.M



Perkenalkan nama saya Yuri Indah Marminingtias. Saya lahir di Bondowoso pada tanggal 29 bulan Agustus tahun 1995. Saya merupakan anak pertama dari kedua bersaudara. Saya mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Diyah Ayu Wulandari. Saya ini berdarah Campuran :D, campuran Jawa-Madura. tapi bukan Es Campur yaa :D. Papa saya Orang Jawa, sedangkan Mama orang Madura. Nama Papa saya Yayak Suemadie dan Mama Zuhairiyah. Kedua orang tua saya termasuk tipe orang tua yang protektif bahkan Overprotektif dalam menjaga saya dan adik. Dari kecil saya dilarang untu bermain keluar, maksudnya keluar dari batas halaman rumah. Jadi, saya hanya menghabiskan waktu dengan adik,adik sepupu dan seluruh keluarga yang satu halaman dengan rumah saya. Aktifitas saya dari kecil sampai sekarang masih tetap itu-itu aja. SD-SMA biasanya sekolah-pulang-makan-tidur (kecuali ada les). sekarang meskipun jauh dari orang tua tetep aja, Kuliah-pulang-makan-tidur. Tapi pernah sih, keluar maen ma temen nyuri-nyuri waktu. wkwkwk
Aku anaknya terkenal cerewet, tetapi secerewet-cerewetnya aku, aku bisa diem kok. Kalau lagi tidur aku diem :D. Saya dulu SD di SDN Sumber Canting 2, tetapi tidak samapi lulus. Pada saat kenaikan kelas 5 saya pindah sekolah ke SDN Wringin 05. Saya pindah sekolah itu karena kemauan dari Papa. Setelah lulus SD, saya melanjutka pendidikan ke SMP. Papa mendaftarkan saya di SMPN 1 BONDOWOSO (SMP terfaforit di Bondowoso, kan sudah SSN dan SBI.. hehehe). setelah lulus dari SMPN 1 BONDOWOSO saya melanjutkan pendidikan ke MAN 1 SITUBONDO. Entahlah, apa yang menyebabkan saya masuk MAN. Itu adalah pilihan Mama. dan Sekarang saya belajar di UNIVERSITAS JEMBER Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mungkin  doa saya terkabul ya? Dulu sewaktu kecil saya bercita-cita ingin jadi Guru, makanya saya diterima di FKIP. :D
Eh iyya lupa. Foto diatas itu adalah foto saya sewaktu berumur 10 tahun kalau tidak salah. *Lupa. Foto itu diambil sewaktu saya mengisi acara Isra'Mi'raj. Waktu itu saya disuruh untuk berpidato. hihihi masih unyu2 yaa..
hmm apalagi ya yang ingin saya ceritakan.. kayaknya cuma ini dulu deehh.. nyambung lain kali yaa :) bye bye bye :) :)

Kamis, 30 Januari 2014

TUGAS MEMBUAT CERPEN



DI BALIK WAKTU
Tak ada yang lebih aneh daripada terbangun pada sebuah pagi menjelang siang dan mendapati dirinya penuh mengingat mimpi yang baru saja turun dalam lelap semenit yang lalu. Ia seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri sekaligus santri di sebuah Pondok Pesantren yang tidak terlalu terkenal di sebuah Dataran rendah. Ia merupakan siswa yang rajin masuk sekolah dan Santri yang selalu taat kepada perintah ustadznya. Pagi itu dia bermimpi bertemu Muhammad. Bagaimana bisa?
Inilah yang dikerjakannya setiap hari. Berangkat sekolah terlambat, tidur di dalam kelas saat jam pelajaran berlangsung namun tak pernah absen saat jam sholat berjamaah dimulai. Teman satu bangkunya juga tak pernah tahu pasti apa alasan yang membuat dia bersikap seperti itu. Gendut. Teman-temannya memanggilnya demikian. Di pondok dan di sekolah nama itu cukup populer. Maklum jarak antara sekolah dan pondoknya sangat dekat. Sekitar 200 meter. Sebenarnya tubuhnya tidak terlalu gemuk. Anaknya tinggi dan berisi. Dibanding teman terdekatnya dialah yang paling besar. Mungkin karena itu dia dipanggil Gendut. Kulitnya coklat dan bersih, namun ada beberapa jerawat yang bermunculan di wajahnya. Rambut yang awut-awutan maskipun tertutupi peci, tetap saja nampak. Seragam yang digunakannya rapi, hanya saja tidak dimasukan jadi kerapiannya berkurang.
Pencerita mimpi pagi itu sangat baik kepada dirinya. Tentu saja ia heran, dirinya yang selama ini menganggap dunia zaman dulu abstrak. Dia harus menjadi seorang yang abstrak pula, tiba-tiba menjadi orang yang terpilih bertemu Rasulullah dalam mimpinya. Ia tak tahu apa artinya, tapi mimpi itu sangat jelas. Hanya satu yang tak jelas, omongan dan wajah  Muhammad.
Telah 5 tahun lebih dia menimba ilmu di Pondok pesantren. Pagi itu saat ia bermimpi bertemu Muhammad adalah hari dirinya tertidur pulas di kelas. Tak ada guru yang masuk ke kelas X2 saat itu. Bukan karena gurunya tak mau masuk, namun saat itu guru yang bersangkutan mendapatkan tugas keluar sekolah untuk mengikuti Diklat di Kabupaten. Kesempatan bagi si Gendut untuk mengisi hari itu dengan tidur di kelas. Dia akan terbangun pada pukul 11.30 siang nanti, saat jam sholat duhur berjamaah akan dimulai.
Namun tidak untuk hari ini, dia terbangun lebih awal. 10.30 dia sudah terbangun dari dunia mimpinya. Kelas sepi, tercium aroma tanah dengan denting gerimis yang terdengar hingga ke dalam kelas. Matanya terbuka, benar-benar kosong. Bukan mimpi. “kemana teman-teman? Apakah sekarang sekolah pulang lebih awal? Wah.. janagan-jangan aku telah ditinggal?” gumam gendut dalam hati. Lekas-lekas dia beranjak dari tempat tidurnya yang terbuat dari beberapa deret bangku dari beberapa temannya.
***
Saat terbangun, ia melihat pemandangan di balik pintu yang terbuka sedikit. Ia melihat pemandangan matahari kemerahan di balik jendela. Gerimis serta aroma tanah yang tercium semerbak hingga ke dalam rumah. Ia mengingat-ingat, apakah saat itu pagi atau senja. Usianya baru 7 tahun, tetapi ia sangat rajin. Apalagi urusan sekolah. Dia pasti nangis kalau bangun terlambat. Anti datang terlambat, tugas-tugas sekolah selalu dikerjakan tepat waktu. Ibunya tiba-tiba muncul di balik pintu kamarnya., “khol, bangun.. sudah pukul delapan.” Kini ia tahu, dirinya terbangun pada sebuah pagi di hari libur. Ia tak bergegas, mengingat-ingat mimpinya satu menit yang lalu. Sebuah mimpi yang jelas. Wajah Muhammad dalam mimpinya.
Sehabis mandi dan sarapan pagi, Kholidi kecil mengambil bola dan sepatu kesayangannya. Teman-temannya berteriak memanggil-manggil namanya di depan rumah. Mengajak pergi ke lapangan dekat suaru tempat dia belajar membaca al-quran disetiap senja. Meskipun gerimis, namun itu tak mengecilkan semangat kholidi untuk bermain bola bersama teman-temannya. Selesai bermain bola, ia tak langsung pulang melainkan masih bermain ke sawah dekat rumah salah seorang temannya. Di sana ia bisa menikmati buah jambu yang bisa memuaskan dahaganya setelah bermain bola hampir berjam-jam.
Dia diijinkan bermain di luar rumah dengan batas pada pukul setengah 2 dia harus di rumah. Jika tidak ibunya akan marah dan tidak mengijinkannya lagi bermain. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Itu artinya dia harus segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, tanpa perintah dari sang ibu dia langsung mandi dan menuju tempat sholat. Setelah sholat duhur selesai dia melanjutkan dengan tidur siang. Kembali wajah itu hadir dalam tidurnya. Kini dia berpetualang jauh dalam dunia mimpinya.
“khol.. bangun. Ayo mandi. Sholat asar dulu, sebentar lagi magrib dan kamu harus segera ke surau” terdengar suara Bu Wati dari balik pintu membangunkan kholidi. Sore itu cuaca kembali mendung dan gerimispun mulai turun. Seperti biasa kholidi tak bergegas mandi. Dia masih kembali menerka-nerka apa yang ia lihat dalam mimpinya tadi.
Sehabis mandi, kholidi langsung menganbil sarung dan peci. Setelah sholat ashar, dia segera bergegas keluar rumah. Di depan teman-temannya sudah menunggu dan teriak-teriak memanggil namanya mengajak pergi ke surau berbarengan untuk mengaji. Kali ini, setelah selesai mengaji, ia tak langsung pulang. Bahkan saat teman-teman merayunya dengan segenggam petasan yang disembunyikan di balik sarung untung diledakkan di perempatan jalan. Kholidi tetap berada di suaru dan menunggu sepi., ingin berbicara dengan Ustadz Ahmad.
“ ustadz, saya bermimpi aneh sekali.”
“mimpi apa nak?”
“Muhammad”
“Kamu bermimpi bertemu Muhammad?”
Ia harus mengakui ada rasa bangga dan iri menyelip. Bahkan dirinya yang sudah berumur dan menganggap cukup taat, belum pernah mimpi bersua muhammad. “ bagaimana ia?”
“ia berdiri di atas mimbar yang bercahaya dengan khutbahnya yang meneduhkan hati. Wajah yang becahaya pula yang memandang ke arah kami namun wajah itu tak jelas. Ia sepertinya terburu-buru pergi dengan menaiki buroq sehingga kami tidak jelas melihat wajahnya.” Kholidi mencoba menjelaskan mimipinya kepada pak ustadz.
“kami?” tanya pak ustadz semakin nampak penasaran.
“iya, saya dan sekelompok orang yang tidak saya kenal pak. Anehnya orang-orang yang bersama saya itu tak percaya bahwa ia adalah muhammad. Hanya seorang anak laki-laki yang duduk bersebelahan denganku yang mempercayainya. Dia seorang laki-laki yang cacat fisik, dia tidak bisa melihat.” Tegas kolidi kembali.
“seorang laki-laki yang tidak bisa melihat?” tanya ustadz setengah penasaran. Kholidi mengannguk yakin. “seperti apa buroq?”
“seperti  perahu”.
“darimana kamu tahu nak bahwa itu muhammad? Apakah kau sudah berkenalan?”
“feelingku mengatakan bahwa itu muhammad. Dan ciri-ciri yang ada pada dirinya mengatakan bahwa dia adalah muhammad.”
“terus darimana kamu tahu bahwa muhammad naik buroq? Bukan Perahu?”
“menurut cerita kakek begitu ustadz.” Tegas kholidi sambil tersenyum kecil.
***
Menjelang siang, siswa yang dipanggil gendut itu keluar kelas. Ternyata teman-temannya sedang bermain sepak bola. Wajar. Di Madrasah tempat dia menimba ilmu antara siswa laki-laki dan perempuan berlainan. Gedung madrasah siswa laki-laki berada di sebelah barat pondok dan gedung Madrasah siswa perempuan berada di sebelah timur pondok. Tidak semua teman-temannya bermain sepak bola. Ada yang menjadi sporter. Yang pasti mereka bermain bola bergantian. Namun, kholidi lebih memilih duduk termenung di depan kelas sambil mengingat-ingat mimpinya tadi. Ada sekelompok orang dan anak laki-laki yang tak bisa melihat yang percaya bahwa lelaki yang berdiri di atas mimbar yang bercahaya dengan khutbah yang meneduhkan hati serta terburu-buru pergi dengan menaiki buroq itu adalah muhammad. Usai merenung tak terasa suara adzan duhur sudah berkumandang. Dia langsung bergegas ke mushola sekolah untuk menunaikan sholat duhur berjamaah dengan temannya. Teman-teman yang bermain bolapun sudah bubar. Saat itu adalah jadwal dia menjadi imam di mushola.
Rupanya benar, hari itu sekolah pulang lebih awal. Sekolah yang biasanya pulang pada jam 14.15 kini pulang pada pukul 13.30.Gendut pulang bersama-sama temannya menuju pondok. Sesampainya di pondok dia langsung melanjutkan tidur tanpa melepas seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Tidurnya semakin lelap saat hujan turun menemani tidur siangnya. Membuainya dalam dunia mimpi. Dia mencoba mengatur posisi tidurnya sembari menyeret selimut untuk menutupi kakinya yang mulai terasa dingin akibat udara siang itu. Hujan turun yang semula deras kini telah mulai reda. Meskipun tak sepenuhnya reda, setidaknya masih tertinggal gerimis-gerimis yang menjadi saksi kerinduan langit pada bunda pertiwi. Semakin sore udara dingin semakin menusuk hingga keseluruh tubuh. Gendut dibangunkan oleh teman akrabnya, fauzi.
.” ndut.. bangun. Kamu belum sholat ashar. Sebentar lagi magrib dan kita harus bergegas menuju masjid untuk sholat berjamaah” seru Fauzi sambil menata buku-buku yang berserakan di kamarnya. Mereka berdua sekamar sejak awal mondok.
Gendut yang masih kehilangan separuh sukmanya hanya duduk termenung. Rupanya wajah muhammad kembali menghadiri mimpinya lagi. Dia menerka-nerka pa yang ada dalam mimpinya tadi dan apa artinya. Setelah sukmanya terkumpul. Gendut langsung menuju kamar mandi. Dia terpaksa mandi sore itu meskipun dingin menemaninya. Jika tidak, dia akan didera gatal-gatal. Sholat ashar telah usai. Gendut bersama fauzi bersama-sama menuju masjid untuk sholat berjamaah dengan seluruh santri yang ada di Pondok pesantren tersebut.
***

Kholidi tahu, kebutaan yang dialami laki-laki yang ada di sampingnya saat bertemu muhammad itu telah mengingatkannya pada Almarhum Ayahnya yang meninggal 2 tahun silam waktu dia berumur 5 tahun. Setahu kholidi, ibunya sering merasa kasihan dan meneteskan air mata saat melihat ayahnya apalagi saat ayahnya terjatuh di kamar mandi hingga sampai merenggut nyawanya. Seakan-akan air mata ibu tak pernah kering. Air mata itu selalu mengalir disetiap sujudnya. Ibu tak pernah lupa untuk selalu mendoakan ayah agar senantiasa diberi tempat yang indah di sisi_Nya.
Di kamarnya yang kecil. Kholidi mencoba menggambarkan apa yang ada pada mimpinya. Sebuah mimbar di dalam masjid dengan seorang pria yang berdiri di atasnya dengan cahaya yang bersinar mengelilinginya. Selain itu kholidi juga menggambarkan saat pria itu pergi dengan menaiki buroq. Di gambarnya, kholidi kecil menganalogikan buroq seperti perahu. Persis seperti apa yang dia lihat di mimpinya. Sebuah perahu yang berwarna coklat keemasan dan cahaya melingkar di atas kepala pria tersebut berwarna kuning agak keputih-putihan. Warna cahaya.
***
Setelah sholat magrib berjamaah. Seluruh santri mengambil al-quan masing-masing dan membacanya dengan kusyuk. Begitu juga dengan si Gendut dan fauzi. Mereka terlihat duduk bersebelahan di teras masjid sambil membaca al-quran. Sembari menunggu adzan isyak berkumandang, Gendut mengambil selembar kertas dan sebuah pensil. Lalu dia mulai menggambar apa yang ada di mimpinya tadi.
Sebuah mimbar di dalam masjid dengan seorang pria yang berdiri di atasnya dengan cahaya yang bersinar mengelilinginya. Selain itu Gendut juga menggambarkan saat pria itu pergi dengan menaiki buroq. Di gambarnya, kholidi kecil menganalogikan buroq seperti perahu. Persis seperti apa yang dia lihat di mimpinya. Sebuah sampan yang berwarna coklat keemasan dan cahaya melingkar di atas kepala pria tersebut berwarna kuning agak keputih-putihan. Warna cahaya.
“zi.. menurut kamu, gambar apa ni?” tanya Gendut kepada fauzi.
“gambar apaan ini ndut? Kamu rindu TK ya? Apa jangan-jangan kamu kurang dulu waktu sekolah TK.” Ledek fauzi kepadaGendut yang hanya tersenyum kecil.
“aku serius zi, menurut kamu,. Gambar apa ini?” tanya Gendut sekali lagi.
“itu kan gambarnya nelayan yang lagi mau menuju laut untuk mencari ikan dengan lampu petromak di atas perahunya.” Jawab fauzi setengah meledek.
“nelayan ya?” gendut hanya mampu tersenyum mendengar jawaban temannya.
Adzan isyak telah berkumandang. Tanda waktu sholat telah masuk. Mereka berdua meletakkan al-quran kembali di tempatnya dan Gendut menyelipkan gambarnya di dalam al-quran. Setelah sholat usai, mereka tak langsung kembali ke kamar. Mereka harus mengikuti pengkajian kitab Riyadussolihin yang dipimpin oleh KH.Ghofur.
Sepertinya malam itu tak ada bintang yang nampak di langit. Hanya sekumpulan awan yang menutupi langit. Sehingga malam buram menemani mereka. Sepulang dari masjid mereka bergegas menuju dapur santri. Di sana telah tersedia makan malam yang telah di siapkan oleh juru masak pondok. Mereka makan dengan lahapnya. Sejak tadi siang mereka belum makan. Makan terakhir di sekolah. Itupun mie instan. Lelah dan kantuk sudah menghampiri mereka. Namun masih ada tugas sekolah yang belum mereka kerjakan. Terpaksa mereka tidur larut malam untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Buat fauzi tidak masalah. Dia tergolong santri yang tahan dan terbiasa dengan keadaan yang seperti itu, tidak buat si Gendut. Memang dia mengerjakan tugas-tugas sekolahnya namun pasti dia akan terlambat ke sekolah dan tertidur di kelas nanti.
Tumben. Pagi ini si Gendut bangun lebih awal dan bergegas untuk sekolah. Saat akan berangkat sekolah dia menerima surat. Dibukanya surat tersebut. Dari ibu rupanya. Sudah hampir 5 tahun Gendut tidak pulang ke rumahnya dan ibunya juga tidak pernah menjenguknya di pondok. Itu karena sang ibu sibuk mengurus tanaman tembakaunya. Ibunya bertanya apakah liburan semester ini ia akan pulang ke rumah ataukah menetap di pondok. Gendut berfikir, jika dia pulang di rumah pasti tidak akan banyak membantu. Daripada di rumah hanya makan, tidur dan nonton TV, lebih baik di pondok, memperdalam ilmu agama, membantu ustadz menanam melon. Bukan hanya itu saja,uang untuk transportasi pulangpun tidak cukup. Daripada harus meminta kiriman uang untuk pulang, lebih baik menetap saja. Sebelum berangkat ke sekolah, Gendut menyempatkan membalas surat dari ibunya dan menitipkannya kepada pihak pondok untuk dikirimkan.
***
Malam berikutnya sepulang dari surau, kholidi kecil menunjukkan gambarnya kepada ibunya.
“gambar apa ini? Ibu ndak ngerti.”
“ini gambar mimpiku bu.”
“mimpi apa? kamu bemimpi menjadi nelayan nak?”
“Ini Muhammad bu,” katanya menunjuk mimbar tempat pria itu berdiri dan cahaya yang melingkar di atas kepalanya.
“kapan kamu mimpi ini?”
“kemarin waktu tidur setelah sholat subuh dan tidur siang bu.”
Ibunya terharu, mengelus pelan rambut anaknya. Seperti biasa, setiap senja tiba. Kholidi harus bergegas menuju surau untuk mengaji. Selesai mengaji dia tak langsung pulang melainkan menunjukkan gambarnya kepada pak ustadz. Bukan hanya ke pak ustadz, namun gambar itu ditunjukkan dan dijelaskan kepada teman-temannya. Ia menjelaskan kepada teman-temannya bahwa gambar itu adalah gambar Muhammad yang sedang berkhutbah di masjid dan pergi dengan menaiki buroq.
“kholidi, hanya orang-orang terpilih yang bisa bermimpi bertemu Muhammad.” Ujar ustadz.
“apakah itu berarti aku termasuk orang yang terpilih?”
“kamu yakin tak berbohong dengan cerita mimpimu itu? Berbohong itu dosa.”
Teman-teman yang tadinya antusias mendengar cerita kholidi tentang Muhammad kini menjadi terdiam. Memandang bergantian antara Kholidi dan ustadz. Kholidi kecewa akan perkataan ustadznya. Ia mengambil gambar itu.
Kholidi kecil pergi dari surau dan tak pernah datang lagi untuk mengaji. Gambar itu diletakkannya di atas meja begitu saja. Ia tak pernah menyentunya lagi hingga gambar itu hilang entah kemana. Kholidi sekarang lebih senang membuat gambar-gambar di bukunya. Bukan hanya di buku gambarnya, buku tulis sekolah juga ia gambari. Ia tak hanya menggambar sawah, gunung, rumah. Kini, gambar-gambarnya semakin sulit di tebak dan tak beraturan. Kholidipun menjadidi pendiam hingga dia bercita-cita untuk menimba ilmu di pesantren jika sudah menginjak Sekolah Menengah. Impiannya tercapai, ibunya mengijinkan ia mondok yang letaknya cukup jauh dari rumahnya.
***
                 Pagi ini semangat nampak jelas di muka gendut. Rapi dan tak terlihat kekusutan yang biasa nampak di mukanya. Semester 1. Ya ujian semester 1 yang membuat dia semangat. Nampak seluruh siswa kelas X,XI,dan XII mulai sibuk mencari ruangan ujiannya. Gendut sendiri berada di ruang 1. Ruangannya tepat bersebelahan dengan ruang Wakasis. Di sana dia duduk dengan kakak kelas, kelas XI. Gendut terlihat serius mengerjakan soal ujiannya. Entahlah diisi apa soal itu. Seperti yang telah diketahui. Gendut males-malesan kalau di suruh belajar. Kecuali ada PR. Nampak sekali raut muka yang penuh keseriusan. Kesulitan nampaknya di alami Kholidi dalam memecahkan soal Matematika pagi itu. Mau bagaimana lagi? Bisa tidak bisa dia harus mengerjakan seluruh soal ujian hari itu.
                 Seminggu sudah berlalu ujian semester. Gendut  tidak bisa tenang-tenang saja. Masih ada masa remidi. Semoga tak ada mata pelajaran yang remidi. Dia berdoa penuh harap. Setelah semua mata pelajaran di umumkan, ternyata gendut lulus. Dia tidak remidi sama sekali. Senang sekali rasanya bisa memberi kabar yang menggembirakan hati ibunya. Kini dia dilanda kegalauan. Antara pulang atau tidak pada semester ini. Sudah  5 tahun dia tidak pulang. Rindu ibu dan teman-teman masa kecilnya. Ternyata rencana awal dia untuk tidak pulang semester ini berubah. Dia memutuskan untuk pulang. Meskipun ongkos buat pulang kurang, dia dengan berat hati mengambil beberapa dari tabungannya.
Sesampainya di rumah ia mengetok-ngetok pintu namun tak ada jawaban dari dalam. Dia langsung masuk karena kebetulan pintu rumah tidak dikunci. Seorang perempuan paruh baya berjilbab, tertidur di kursi panjang yang tak bisa disebut sofa dengan sebuah bantal tipis menyangga lehernya. Selembar kertas bergambar Sebuah mimbar di dalam masjid dengan seorang pria yang berdiri di atasnya dengan cahaya yang bersinar mengelilinginya. Selain itu kholidi juga menggambarkan saat pria itu pergi dengan menaiki buroq. Di gambarnya, kholidi kecil menganalogikan buroq seperti perahu. Persis seperti apa yang dia lihat di mimpinya. Sebuah sampan yang berwarna coklat keemasan dan cahaya melingkar di atas kepala pria tersebut berwarna kuning agak keputih-putihan. Warna cahaya. Berada didekapannya. Bertahun-tahun anaknya menimba ilmu tak pernah tahu, bahwa ibunya masih menyimpan gambar itu. “ibu..kholid pulang.”